Ketua STIE Pertiba ‘ Ironi Daerah Laut Tapi Ikan Mahal Seperti Kutukan Ekonomi

0
418

DARI tahun ke tahun Inflasi di Pangkalpinang secara umum di Bangka Belitung lebih tinggi dari inflasi rata-rata nasional. Inflasi bisa terjadi karena banyaknya barang komoditas bahan pangan dari luar pulau seperti cabe dan sayuran. Inflasi kenaikan harga terus menerus bukan hanya terjadi karena hari raya.
Wilayah kita yang khusus kepulauan, ikan merupakan komoditas inflasi paling besar, seperti waktu Pangkalpinang jadi kota inflasi tertinggi di Indonesia, komoditas ikan berperan mempengaruhi inflasi termasuk Tanjungpandan pada awal tahun menjadi kota inflasi terbesar karena harga ikan.
Pemerintah daerah harus mengatur tata niaga ikan karena sebenarnya sudah ada rujukan dari undang-undang perikanan dan perdagangan. Harus ada keberanian dan kemauan keras dari pemerintah daerah untuk membantu sektor perikanan. Pemerintah pusat saja sekarang ini sudah fokus kepada ekonomi maritim. Ikan laut ini merupakan komoditas yang selalu ada selama laut kita jaga.

Satu kelemahan di Bangka Belitung dan daerah-daerah di daerah matirim yakni nelayan tidak memiliki kapal yang gross ton nya besar sehingga tak bisa melewat jarak diatas 5 mil padahal potensi laut cukup tinggi.
Selain itu para nelayan lebih banyak nelayan pekerja dibandingkan nelayan pemilik. Jadi karena nelayan pekerja, kapal pun milik orang lain dia (nelayan pekerja) hanya mendapatkan pembagian hasil dipotong modal melaut seperti solar dan membeli makanan selama melaut.
Tempat Pelelangan Ikan (TPI) tidak dikelola dengan baik tidak memiliki pabrik es dan cool storage (penyimpan dingin).sehingga akan memperngaruhi mutu ikan.
Dari jaringan pemasaran ikan jujur saja selama ini dikuasai pemain, jaringan ini membentuk oligopoli atau kartel.
Pemerintah daerah melalui dinas kelautan perikanan dan dinas perdagangan dan Komisi Pengawasan Persaingan Usaha (KPPU) harusnya mengecek jaringan pasar.
Harga nelayan terlalu rendah akhirnya yang menikmati keuntungan sangat tinggi adalah para pemilik jaringan pasar dan konsumen yang dirugikan.
Ikan yang jelek pun mahal sementara ikan yang bagus-bagus sudah dikirim untuk kebutuhan ekspor.
Sementara permintaan lokal terhadap ikan sangat tinggi untuk makanan langsung, sebagian besar hasil laut dikelola lagi jadi makanan kemasan seperti kerupuk, kericu dan kemplang.
Ada bahan baku ikan yang diproses sehingga kebutuhan ikan sangat besar di Provinsi Bangka Belitung.
Nelayan harus punya koperasi usaha bersama untuk mendanakan ransum (kebutuhan selama melaut), idealnya koperasi ini bisa memutus rantai pemasaran ikan dengan cara koperasi memasarkan hasil tangkapan ikan nelayan ke pasar, jadi aksesnya langsung tidak melalui akses tengkulak.
Ini harus diberikan wawasan ada pembinaan dari pemerintah melalui dinas koperasi, Langkah lain yang dapat ditempuh yakni harus ada keberanian untuk meminta sektor perbankan membantu industri kemaritiman dengan suku bunga rendah karena jujur saja suku bunga untuk pembelian kapal masih cukup tinggi
Pemerintah daerah harus memiliki keberanian mengatur tata niaga yang lebih adil. Semua orang boleh berbisnis tapi dengan keuntungan lebih merata dan konsumen tidak dirugikan dengan harga tinggi. Ironis daerah laut tapi ikan mahal, ini seperti kutukan ekonomi.